Minggu, 04 November 2012

PRESIDENKU, HARAPANKU

ini tulisan pernah aku ikutin lomba di PPWI (Persatuan Pewarta Warga Indonesia) yah,, coba-coba ikut bikin tulisan,, ehehee.. silahkan dibaca, monggoooo... (^_^)





PRESIDENKU, HARAPANKU
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dibandingkan dengan negara lain. Namun, sampai saat ini masih menjadi negara berkembang. Hal teresebut berbanding terbalik dengan kepemimpinan Indonesia saat ini. Kepemimpinan yang mengalami krisis karena individu yang belum bisa bertanggung jawab. Di dalam bangku pemerintahan ada seorang penguasa yang di sebut dengan presiden. Presiden adalah orang nomor satu yang memiliki kekuasaan penting di negara ini. Dengan adanya krisis kepemimpinan saat ini mengakibatkan munculnya masalah-masalah yang membuat rakyat Indonesia sendiri merasa cemas dan tidak tenang.
Krisisnya kepemimpinan saat ini disebabkan karena beberapa faktor, antara lain yaitu: 1) Krisis moral dan etika. Krisis moral dan etika yang melanda para pemimpin berakibat pada rusaknya berbagai tatanan dan aturan yang ada di Indonesia. 2) Wacana kepemimpinan yang terlalu berlebihan mengangungkan rasionalitas. Sebagai contoh : saat Arief Budiman mengkritik Megawati sebagai pemimpin yang lemah dan memiliki visi yang lemah. Kritik ini mencerminkan wacana kepemimpinan ‘sebatas’ pada matra rasionalitas belaka. Tidak ada yang lain. 3) Kondisi di atas justru makin memicu terjadinya krisis kepemimpinan. Kecenderungan seperti ini justru membuat para pemimpin semakin rentan dihinggapi krisis moral, terutama dalam tataran praktik. Namun sayang, praktik-praktik semacam itu yang sangat digemari oleh dunia kepemimpinan kita. 4) Praktik-praktik kepemimpinan itu biasanya pada semua hal yang menyangkut gaya kepemimpinan, teknik kepemimpinan, ketrampilan kepemimpinan, visi-visi kepemimpinan, yang berujung pada kualitas kepemimpinan-yang observasi dan parameternya relatif ‘kasat mata’. Padahal, semua aspek kepemimpinan yang serba kasat mata seperti itu sangat mudah terjerumus ke dalam krisis moral dan etik. 5) Jelasnya, praktik kepemimpinan dewasa ini cenderung menjadi kepemimpinan eksesif yang serba koersif, deterministik, egois, relasi dan orientasi menang-kalah, licik, oportunitis, asas manfaat, serta manipulatif-eksploitatif.
Dari beberapa faktor tersebut dapat dijadikan sebagai cerminan bagi rakyat Indonesia dalam memilih calon Presiden yang sesuai dengan keadaan Indonesia saat ini. Dimana rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar adil dalam berbagai hal. 12 Kriteria calon presiden masa depan yang sesuai dengan negara Indonesia, antara lain sebagai berikut:
1.      Bijaksana
Tindakan yang cermat dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk.
Pemimpin akan disanjung oleh masyarakat bilamana ia dapat memilih keputusan mana yang paling tepat untuk dijalankan. Pemimpin yang bijaksana akan mendapat tempat di hati masyarakat dan selalu dipercaya dalam kepemimpinannya. Namun, daalam memilih mana keputusan yang paling tepat tidaklah mudah, bagaimana jika keputusan tersebut tidak disukai oleh masyarakat. Itulah yang menjadi ketakutan yang harus ditaklukan jika ingin menjadi seorang pemimpin negara ini.
2.      Jujur
Ketulusan hati, tidak bohong, dapat dipercaya kata-katanya. Kejujuran dalam setiap perbuatan sangat penting untuk diutamakan. Terutama dalam menjalankan urusan kenegaraan bagi sang pemimpin. Setiap orang belum tentu dapat berkata jujur. Mengingat banyaknya orang yang melakukan suatu tindakan tidak dilandasi dengan kejujuran, maka seorang pemimpin ini harus memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia.
3.      Adil
Benar, patut dengan tidak memandang siapapun (tidak berat sebelah). Menjadi pemimpin yang baik dituntut untuk adil dalam memutuskan suatu kebijakan. Adil menurut seseorang belum tentu adil menurut orang lain. Sehingga menjadi seorang nomor satu di Indonesia ini harus mengetahui bagaimana seluk beluk dari rakyat, dan memahami apa yang diinginkan rakyat selama ini agar tidak ada diskriminasi antar sesama.
4.      Tanggung jawab
Keadaan wajib menanggung segala sesuatu jika ada sesuatu hal (boleh dituntut, ddipersalahkan, atau diperkarakan).
Tanggung jawab terhadap apa yang menjadi tugasnya sebagai pemimpin nomor satu memang tidaklah mudah, namun untuk kebaikan semua masyarakat kenapa tidak? Berani mengakui kesalahan adalah salah satu perbuatan yang mulia.
5.      Amanah
Sesuatu yang dipercayakan kepada orang lain. Seorang pemimpin yang terpilih sepenuhnya karena memang rakyat yang menginginkannya, bukanlah karena sebuah rekayasa dan keinginan partai politik yang mencalonkannya. Amanah dalam menjalani setiap tugas dan kewenangannya sangat tidak mudah, apabila selalu terbayang dengan kemewahan sikap amanh itu dengan perlahan akan bilang dengan sendirinya. Ia akan lupa dengan amanah dari masyarakat yang berharap ia bisa berlaku dengan jujur dan selalu bijaksana disetiap keputusan. Hanya seseorang yang benar-benar amanah apabila ia memiliki jiwa yang tangguh dan budi luhur.
6.      Merakyat
Sebagai orang yang menjabat di bangku pemerintahan tidak selayaknya ia bersikap sombong dan tidak peduli dengan rakyatnya. Pemimpin akan disegani jika mau berbaur dengan masyarakat. Tidak menunjukkan dirinya adalah seorang yang mempunyai kekuasaan tinggi merupakan salah satu cara untuk berbaur dengan masyarakat biasa dan masyarakat tidak akan canggung apabila bertegur sapa dengannya.
7.      Memiliki moral yang baik
Presiden adalah pemimpin yang menjadi contoh masyarakat sebagai pejabat pemerintahan untuk menangani setiap masalah yang ada dengan kepala dingin. Sebagai pemimpin yang baik hendaklah mempunyai moral yang baik. Jika seorang pemimpin tidak memiliki moral yang baik masyarakat tidak akan percaya bahwa ia benar-benar pemimpin yang bijak dalam mengurus bangsa Indonesia.
8.      Berpendirian kokoh
Menjadi pemimpin harus mempunyai pendirian yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Percaya diri terhadap keputusan yang diambil dan tidak mudah goyah dalam pemikiran.
9.      Wawasan luas
Berwawasan luas adalah modal utama untuk menjadi seorang pemimpin. Menjadi pemimpin haruslah mempunyai wawasan yang luas dan mendunia. Tidak hanya di Indonesia saja tetapi dituntut untuk mengetahui dunia luar. Tidak mungkin seorang pemimpin hanya berpengetahuan sebatas Indonesia saja, itu belum cukup jika ingin menjadi penguasa. Karena penuasa tidak hanya berkutat di Indonesia tetapi juga bersangkutan dengan dunia luar dan menjalin relasi dengam negara lain.
10.  Berani mengatakan tidak pada kepentingan asing
Tidak semudah mengatakan “iya” terhadap usulan ataupun bantuan dari luar negeri. Pemimpin harus memilih dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh apa yang akan menjadi keputusannya, karena keputusan tersebut untuk kepentingan rakyat bersama. Jika dirasa dari pihak luar tidak memberikan dampak yang positif maka pemimpin harus berani menolak secara halus agar tidak menyinggung pihak luar tersebut.
11.  Berkomitmen
Komitmen dalam suatu organisasi sangat dibutuhkan dan diperlukan. Apalagi di dalam organisasi kepemerintahan yang menyangkut rakyat banyak. Wakil rakyat yang menjabat sebagai penampung aspirasi harus memiliki komitmen yang tinggi dan benar-benar serius dalam menangani setiap urusan yang dikerjakan.
12.  Kinerja yang baik
Menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dituntut untuk selalu bekerja dengan serius sehingga hasilnya akan tercapai dengan apa yang diinginkan. Masyarakat akan bangga jika mempunyai wakil rakyat yang bisa dipercaya hingga akhir untuk menjalankan tugasnya mewakili rakyat Indonesia.
Kedua belas kriteria di atas dapat dijadikan sebagai tolok ukur masyarakat untuk memilih seorang pemimpin yang akan menduduki kursi nomor satu di Indonesia. Semoga presiden yang akan datang dapat memberikan kontribusi nyata bagi bangsa ini.

DAFTAR PUSTAKA
Sulistyo, Agus dan Mulyono, Adi. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia dengan EYD dan Pengetahuan Umum. Surakarta: ITA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar