PRESIDENKU,
HARAPANKU
Indonesia
memiliki sumber daya alam yang melimpah dibandingkan dengan negara lain. Namun,
sampai saat ini masih menjadi negara berkembang. Hal teresebut berbanding
terbalik dengan kepemimpinan Indonesia saat ini. Kepemimpinan yang mengalami
krisis karena individu yang belum bisa bertanggung jawab. Di dalam bangku
pemerintahan ada seorang penguasa yang di sebut dengan presiden. Presiden adalah
orang nomor satu yang memiliki kekuasaan penting di negara ini. Dengan adanya
krisis kepemimpinan saat ini mengakibatkan munculnya masalah-masalah yang
membuat rakyat Indonesia sendiri merasa cemas dan tidak tenang.
Krisisnya
kepemimpinan saat ini disebabkan karena beberapa faktor, antara lain yaitu: 1) Krisis moral dan etika. Krisis moral
dan etika yang melanda para pemimpin berakibat pada rusaknya berbagai tatanan
dan aturan yang ada di Indonesia. 2) Wacana kepemimpinan yang terlalu berlebihan
mengangungkan rasionalitas. Sebagai contoh : saat Arief Budiman mengkritik
Megawati sebagai pemimpin yang lemah dan memiliki visi yang lemah. Kritik ini
mencerminkan wacana kepemimpinan ‘sebatas’ pada matra rasionalitas belaka.
Tidak ada yang lain. 3) Kondisi di atas justru makin memicu terjadinya krisis
kepemimpinan. Kecenderungan seperti ini justru membuat para pemimpin semakin
rentan dihinggapi krisis moral, terutama dalam tataran praktik. Namun sayang,
praktik-praktik semacam itu yang sangat digemari oleh dunia kepemimpinan kita.
4) Praktik-praktik kepemimpinan itu biasanya pada semua hal yang menyangkut
gaya kepemimpinan, teknik kepemimpinan, ketrampilan kepemimpinan, visi-visi
kepemimpinan, yang berujung pada kualitas kepemimpinan-yang observasi dan
parameternya relatif ‘kasat mata’. Padahal, semua aspek kepemimpinan yang serba
kasat mata seperti itu sangat mudah terjerumus ke dalam krisis moral dan etik.
5) Jelasnya, praktik kepemimpinan dewasa ini
cenderung menjadi kepemimpinan eksesif yang serba koersif, deterministik,
egois, relasi dan orientasi menang-kalah, licik, oportunitis, asas manfaat,
serta manipulatif-eksploitatif.
Dari beberapa faktor tersebut dapat
dijadikan sebagai cerminan bagi rakyat Indonesia dalam memilih calon Presiden
yang sesuai dengan keadaan Indonesia saat ini. Dimana rakyat membutuhkan
seorang pemimpin yang benar-benar adil dalam berbagai hal. 12 Kriteria calon
presiden masa depan yang sesuai dengan negara Indonesia, antara lain sebagai
berikut:
1. Bijaksana
Tindakan yang cermat dan dapat membedakan mana yang baik
dan buruk.
Pemimpin akan disanjung oleh masyarakat bilamana ia dapat
memilih keputusan mana yang paling tepat untuk dijalankan. Pemimpin yang
bijaksana akan mendapat tempat di hati masyarakat dan selalu dipercaya dalam kepemimpinannya.
Namun, daalam memilih mana keputusan yang paling tepat tidaklah mudah,
bagaimana jika keputusan tersebut tidak disukai oleh masyarakat. Itulah yang
menjadi ketakutan yang harus ditaklukan jika ingin menjadi seorang pemimpin negara
ini.
2. Jujur
Ketulusan hati, tidak bohong, dapat dipercaya kata-katanya.
Kejujuran dalam setiap perbuatan sangat penting untuk diutamakan. Terutama
dalam menjalankan urusan kenegaraan bagi sang pemimpin. Setiap orang belum
tentu dapat berkata jujur. Mengingat banyaknya orang yang melakukan suatu
tindakan tidak dilandasi dengan kejujuran, maka seorang pemimpin ini harus
memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia.
3. Adil
Benar, patut dengan tidak memandang siapapun (tidak berat
sebelah). Menjadi pemimpin yang baik dituntut
untuk adil dalam memutuskan suatu kebijakan. Adil menurut seseorang belum tentu
adil menurut orang lain. Sehingga menjadi seorang nomor satu di Indonesia ini
harus mengetahui bagaimana seluk beluk dari rakyat, dan memahami apa yang
diinginkan rakyat selama ini agar tidak ada diskriminasi antar sesama.
4. Tanggung jawab
Keadaan wajib menanggung segala sesuatu jika ada sesuatu
hal (boleh dituntut, ddipersalahkan, atau diperkarakan).
Tanggung jawab terhadap apa yang menjadi tugasnya sebagai pemimpin
nomor satu memang tidaklah mudah, namun untuk kebaikan semua masyarakat kenapa
tidak? Berani mengakui kesalahan adalah salah satu perbuatan yang mulia.
5. Amanah
Sesuatu yang dipercayakan kepada orang lain. Seorang pemimpin yang terpilih sepenuhnya karena memang
rakyat yang menginginkannya, bukanlah karena sebuah rekayasa dan keinginan partai
politik yang mencalonkannya. Amanah dalam menjalani setiap tugas dan
kewenangannya sangat tidak mudah, apabila selalu terbayang dengan kemewahan
sikap amanh itu dengan perlahan akan bilang dengan sendirinya. Ia akan lupa
dengan amanah dari masyarakat yang berharap ia bisa berlaku dengan jujur dan
selalu bijaksana disetiap keputusan. Hanya seseorang yang benar-benar amanah
apabila ia memiliki jiwa yang tangguh dan budi luhur.
6. Merakyat
Sebagai orang
yang menjabat di bangku pemerintahan tidak selayaknya ia bersikap sombong dan
tidak peduli dengan rakyatnya. Pemimpin akan disegani jika mau berbaur dengan
masyarakat. Tidak menunjukkan dirinya adalah seorang yang mempunyai kekuasaan
tinggi merupakan salah satu cara untuk berbaur dengan masyarakat biasa dan
masyarakat tidak akan canggung apabila bertegur sapa dengannya.
7. Memiliki moral yang baik
Presiden adalah
pemimpin yang menjadi contoh masyarakat sebagai pejabat pemerintahan untuk
menangani setiap masalah yang ada dengan kepala dingin. Sebagai pemimpin yang
baik hendaklah mempunyai moral yang baik. Jika seorang pemimpin tidak memiliki
moral yang baik masyarakat tidak akan percaya bahwa ia benar-benar pemimpin
yang bijak dalam mengurus bangsa Indonesia.
8. Berpendirian kokoh
Menjadi pemimpin harus mempunyai pendirian yang kuat, tidak
mudah terpengaruh oleh orang lain. Percaya diri terhadap keputusan yang diambil
dan tidak mudah goyah dalam pemikiran.
9. Wawasan luas
Berwawasan luas adalah modal utama untuk menjadi seorang
pemimpin. Menjadi pemimpin haruslah mempunyai wawasan yang luas dan
mendunia. Tidak hanya di Indonesia saja tetapi dituntut untuk mengetahui dunia
luar. Tidak mungkin seorang pemimpin hanya berpengetahuan sebatas Indonesia
saja, itu belum cukup jika ingin menjadi penguasa. Karena penuasa tidak hanya
berkutat di Indonesia tetapi juga bersangkutan dengan dunia luar dan menjalin
relasi dengam negara lain.
10. Berani mengatakan tidak pada kepentingan asing
Tidak semudah mengatakan “iya” terhadap usulan ataupun
bantuan dari luar negeri. Pemimpin harus memilih dan mempertimbangkan dengan
sungguh-sungguh apa yang akan menjadi keputusannya, karena keputusan tersebut
untuk kepentingan rakyat bersama. Jika dirasa dari pihak luar tidak memberikan
dampak yang positif maka pemimpin harus berani menolak secara halus agar tidak
menyinggung pihak luar tersebut.
11.
Berkomitmen
Komitmen dalam
suatu organisasi sangat dibutuhkan dan diperlukan. Apalagi di dalam organisasi
kepemerintahan yang menyangkut rakyat banyak. Wakil rakyat yang menjabat
sebagai penampung aspirasi harus memiliki komitmen yang tinggi dan benar-benar
serius dalam menangani setiap urusan yang dikerjakan.
12.
Kinerja yang baik
Menjabat sebagai
anggota Dewan Perwakilan Rakyat dituntut untuk selalu bekerja dengan serius
sehingga hasilnya akan tercapai dengan apa yang diinginkan. Masyarakat akan
bangga jika mempunyai wakil rakyat yang bisa dipercaya hingga akhir untuk
menjalankan tugasnya mewakili rakyat Indonesia.
Kedua belas kriteria di atas dapat
dijadikan sebagai tolok ukur masyarakat untuk memilih seorang pemimpin yang
akan menduduki kursi nomor satu di Indonesia. Semoga presiden yang akan datang
dapat memberikan kontribusi nyata bagi bangsa ini.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.shvoong.com/business-management/management/2085301-kepemimpinan-dimensi-keempat/#ixzz1vKZLltOj (Diunduh 19 Mei 2012, 22:44)
http://nasional.kompas.com/read/2011/08/05/13534069/Kriteria.Presiden.RI.204 (diunduh 26 Mei 2012)
Sulistyo, Agus dan Mulyono, Adi. 1998. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia dengan EYD dan Pengetahuan Umum.
Surakarta: ITA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar